Lama tak terdengar kabarnya, Mario Balotelli tiba-tiba membuat pernyataan yang membuat panas kuping fans AC Milan.
Sumber : Pihak ketiga
Mantan bintang klub tersebut membuat pernyataan menghebohkan dengan menuduh bahwa Milanisti tak punya rasa hormat dan terima kasih menyusul penolakan terhadap kemungkinan dirinya kembali ke San Siro, goal.com (7/12/2018).
Penyerang 29 tahun ini pernah membela Rossoneri pada musim 2013-2014 usai dibeli dari Manchester City dan musim 2015-2016 usai dipinjam dari Liverpool, transfermarkt.com (8/12/2018).
Sayangnya memang pemain kelahiran Palermo itu gagal menunjukkan bakatnya yang sebenarnya, dan cenderung sama meredupnya saat masih bermain di Premier League.
Namun pesona Balotelli mulai kembali bersinar usai pindah ke OGC Nice pada 2016 lalu, yang sempat membuat AC Milan ingin kembali memulangkannya.
Tapi penolakan keras dari para Milanisti membuat pihak klub mengurungkan niat mereka. Tak pelak Balotelli pun geram dengan sikap norak mereka dan melontarkan balasan lewat Instagram.
Padahal Balo sejatinya begitu mencintai Milan, bahkan ia menuliskan kalimat perpisahan yang sangat emosional saat meninggalkan San Siro beberapa tahun lalu.
"Menyenangkan untuk melihat banyak suporter Milan yang tidak akan senang dengan kemungkinan mustahil saya kembali ke Milan," tulisnya di akun instagramnya di instagram.com/mb459.
Sumber : Pihak ketiga
"Tidak masalah, suatu hari Anda dibutuhkan dan hari lainnya Anda tidak dibutuhkan. Penting untuk tidak memiliki rasa penyesalan. Saya belum memiliki rencana soal transfer apa pun."
"Saya menulisnya [kecaman pada fans Milan] karena saya ingin menekankan betapa di sana tidak ada rasa terima kasih dan hormat dari orang-orang yang akan selalu saya cintai."
Sejujurnya, kecaman Balotelli atas fans Milan ini memang ada benarnya karena memang Milanisti adalah fans paling norak sedunia.
Jangankan Balotelli, legenda terbesar mereka yang pernah mengabdi selama 25 tahun, Paolo Maldini, pun mendapatkan perlakuan tak respek dari para fans Rossoneri.
Paolo Maldini kala itu memimpin AC Milan di San Siro saat menghadapi AS Roma, Minggu (24/5/2009) malam. Namun, perayaan itu tercoreng ulah sebagian pendukung usai peluit akhir pertandingan, seperti kami lansir dari goal.com (25/5/2018).
Sumber : Pihak ketiga
Maldini melakukan lap of honour untuk memberikan ucapan selamat tinggal kepada fans yang sudah mendukungnya selama 25 tahun ini.
Akan tetapi, saat melalui Curva Sud, Maldini dapat membaca jelas spanduk yang bernada ejekan yang sangat menyayat hatinya.
"Untuk kegemilangan karir 25 tahun Anda, terima kasih dari dalam hati dari para pendukung bayaran," tulis spanduk itu. Para pendukung juga menyanyikan Franco Baresi sebagai "satu-satunya kapten Milan".
Sikap tak respek Milanisti bahkan sudah dimulai sejak final Liga Champions 2005 ketika keunggulan 3-0 mereka terkejar oleh Liverpool dan akhirnya berakhir imbang 3-3 sebelum kalah via adu penalti.
Sekelompok Ultras sudah menanti kepulangan tim di bandara Milan, namun Maldini marah karena protes para fans mereka yang berkata-kata kasar sambil menyebutkan sumpah-serapah.
Ini tentu saja berbeda dengan fans klub lain yang begitu menghormati legendanya. Bahkan ketika para legenda seperti Alessandro del Piero hingga Iker Casillas meninggalkan klubnya masing-masing, fans Juventus dan real Madrid masih menghormati mereka.
Sementara baru-baru ini sikap norak fans Milan juga terlihat jelas pada bagaimana mereka mengintimidasi bintang muda mereka, Gianluigi Donnarumma.
Dalam laga Piala Eropa U-21 di Stadion Miejski kala Italia U-21 menang 2-0 atas Denmark U-21, Donnarumma dilempari uang palsu sejak babak pertama. Suporter juga membentangkan spanduk bertuliskan "Dollarumma" tepat di belakang gawang kiper remaja itu, metro.co.uk (18/6/2017).
Sumber : Pihak ketiga
Hal itu dilatarbelakangi dari keinginan Donnarumma untuk tidak memperpanjang kontraknya di klub karena kecewa dengan janji pihak manajemen.
Padahal Donnarumma sejatinya melakukan pilihan untuk tidak ingin memperpanjang kontrak dengan sikap yang baik, tidak seperti Dimitri Payet yang sampai ngambek tidak mau dimainkan demi bisa dijual West Ham United, atau begitu juga dengan Thibaut Courtois yang memaksa hengkang dari Chelsea ke Real Madrid.
Tapi Donnarumma tidak, justru dirinya yang diancam tidak akan dimainkan jika tidak mau memperpanjang kontrak, padahal itu adalah hal pemain untuk menentukan masa depannya sendiri.
Kini barangkali karma dari sikap norak mereka, AC Milan kini sejak kasus calciopoli tidak kunjung bangkit ke dalam jajaran tim elit Eropa lagi, dan lebih pantas disebut tim cupu yang hanya bisa bersaing dengan Atalanta atau Udinese.
Sumber : http://tz.ucweb.com/12_4uvOq




